Birth of Certificate

Birth of Certificate

 
 
CIVIL REGISTER
(INDONESIAN CITIZEN)
JAKARTA
EXCERPT OF
BIRTH CERTIFICATE
No.1105460/1991.-
 
 
From GENERAL  Register of Civil Registration for Indonesia Citizen about births pursuant to the State Gazatte in Bogor, that in Bogor on date fifth of October nineteen ninety one was born: KURNIA BHAKTI PUTRI daughter of married couple : HARYANTO and ISNAENI
 
 
This expert conforms to the condition on this day
Bogor, dated fifth of October
Nineteen ninety one,
Head of Civil Registration Office.
 
 
 
 
Lee Min Ho
NIP. 7883328207
 
Kurnia Bhakti Putri
15609038
4SA01
Legal Translation
Posted in Uncategorized | Leave a comment

tugas makalah kepariwisataan-kurnia bhakti putri-3sa01

TOURISM ASSIGNMENT

 

 

 

KURNIA BHAKTI PUTRI

3SA01

15609038

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INTRODUCTION

 

Indonesia has a lot of tourism, tourism is part of the culture because there is history in it.
culture is a characteristic of an area. culture can be a place, the local language, traditions or customs, traditional foods, and so forth. culture is something that has been properly preserved.

 

Indosesia is rich in cultural and historic sites are now a lot of attractions. Not uncommon to foreign tourists coming to Indonesia because of his interest will be tourist attractions in Indonesia. Community should be proud because as a strong nation in culture, and Indonesia has become the nation’s obligation to preserve it.

 

Gucci is a tourist place located in Tegal, Central Java. Natural tourist spot that is now known as hot water baths. which is now managed by the facilities that attract many people.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Method of Study

              

            Water hot baths Guci precisely located in district Bumijawa, on the slopes ‘Mount Slamet’, less then about 30 km from Slawi , Tegal. In Guci, there were 10 waterfalls, among them are baths shower 13, which does have shower amounted 13 pieces. In shower 7 the locals frequent bathing and bath,as believed to cure skin disease or eczema. From the upper we will see waterfalls ‘Jedor’ (taken from ward’s name on ancient times). In Guci are also leased horse to enjoy the view around the rent is relatively cheap.

            Tourism object Guci very crowded prior to the Friday night pond.According to the vie people who believe by reason mystical. In this place available range of facilities such as lodging, forest tourism (ecotourism) , swimming heated pool, tennis courts, soccer field ball, hotel, villa , and also campground.

            Guci attractions which has an area of 210 ha, located at the foot of Mount Slamet the north with an attitude of approximately 1050 meters. From the Slawi city is more less 30 km from the city of Tegal, while the travel is about 40 km to the south.

Why they called it Guci ?

Sahibul saga, hot water is water that has jars Walisongo given to the person they sent to broadcast the Islamic religion to the western part of Central Java around Tegal. Because water was placed in an urn (urn), and efficacious’s blessing, the people call it the location of the provision of water by the name of Jar. But because the water is very limited provision of trustee, on Friday night Kliwon, one sunan wand stick to the ground. God willing, without sulfur hot water flowed full of grace.

          

Conclusion

 

Guci is contained tourism in Indonesia. tourism should continue to be preserved. and also introduced to the public at large with a target of international marketing by placing some ads on the sites on the Internet, adding that tourism can be encountered in it, and promote it in the print media as well.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tempat Wisata di Indonesia

Agrowisata Kaligua

Wisata Agro Kaligua

Perkebunan Teh Kaligua

Perkebunan teh Kaligua merupakan kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah Brebes bagian Selatan. Wisata agro Kaligua dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Jawa Tengah dan merupakan diversifikasi usaha untuk meningkatkan optimalisasi aset perusahaan dengan daya dukung potensi alam yang indah. Hasil pengolahan perkebunan teh Kaligua adalah berupa produk hilir teh hitam (black tea) dengan merk “Kaligua” dalam kemasan teh celup dan serbuk. Jadi wisatawan yang berkunjung dapat langsung menikmati hangatnya teh hitam (black tea) Kaligua atau dapat membeli sebagai oleh-oleh.

kebun teh kaligua

Aksesibilitas

Lokasi wisata agro Kaligua terletak sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalur transportasi dapat ditempuh melalui jalur utara via Brebes atau Tegal-Bumiayu-Kaligua, Cirebon-Bumiayu-Kaligua, dan jalur selatan via Purwokerto-Paguyangan-Kaligua. Jalur tersebut dilewati jalan utama Tegal-Purwokerto, tepat masuk lewat pertigaan Kaligua, Kretek. Perjalanan mulai berkelok-kelok, dan naik-turun.

Geografis

Perkebunan teh Kaligua berada pada ketinggian 1200 – 2050 m dpl. Kondisi udara sangat dingin, berkisar 8° – 22° C pada musim penghujan dan mencapai 4° -12° C pada musim kemarau. Jadi tidak heran kalau wilayah perkebunan teh ini hampir selalu diselimuti kabut tebal. Perkebunan teh tersebut terletak di lereng barat Gunung Slamet (3432 m dpl)yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau jawa setelah Gunung Semeru. Dari salah satu tempat di perkebunan teh Kaligua kita dapat menikmati keindahan puncak gunung Slamet dari dekat, yaitu puncak Sakub. Nah jika ke Kaligua maka sempatkanlah untuk menikmati keindahan panorama indah, sekaligus kita dapat melihat keindahan gunung Ciremai, Tegal, dan Cilacap.

Sejarah

Perkebunan teh Kaligua merupakan warisan pemerintah kolonial Belanda. Pabrik dibangun pada tahun 1889 untuk memproses langsung hasil perkebunan menjadi teh hitam. Kebun ini dikelola oleh warga Belanda bernama Van De Jong dengan nama perusahaan Belanda John Fan & Pletnu yang mewakili NV Culture Onderneming. Sebagai penghargaan makam Van De Jong masih terawat sampai saat ini di lokasi kebun Kaligua.

Konon pada saat pembanguan pabrik, para pekerja membawa ketel uap dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua setiap tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut.

 Fasilitas :

Kawasan wisata agro Kaligua memberikan banyak pilihan untuk wisata. Sebab, terdapat beberapa situs wisata menarik yang berada di seputaran Kaligua. misalnya Gua Jepang, Tuk Benih, Gua Angin, Makam Pendiri kebun Van De Jong. Beberapa vila milik perkebunan bisa dimanfaatkan oleh pengunjung yang ingin bermalam. Kawasan perkebunan teh Kaligua, selain menarik untuk sarana wisata keluarga, juga sangat cocok untuk refreshing bagi orang kota yang setiap hari disibukkan oleh rutinitas kerja. Untuk melayani wisatawan, pihak perkebunan menyediakan fasilitas homestay (penginapan) yang cukup baik.

Fasilitas ; penginapan, wisma Flamboyan (6 kamar),Wisma Dahlia (3 kamar), Wisma Kenanga (2 kamar),Wisma Anggrek (2 kamar), Gedung Pertemuan, Areal Camping,Areal outbond, Gazebo, Lapangan Sepak Bola, Lapangan Tenis, Lapangan Volley, Tennis Meja & Billyard, Tea & Coffee corner (kafe), Hiburan Musik Orgen Tunggal, Jasa Layanan Teh & Catering, Pusat Layanan Kesehatan, Sarana Ibadah

Penunjang

Tak jauh dari lokasi tersebut, di sekitar Pandansari, terdapat sebuah tempat wisata yang tergolong langka. Yakni, sebuah telaga yang dihuni jutaan ikan lele jinak (Telaga Ranjeng). Lokasi telaga itu berada di tengah hutan lindung dan masih berada dalam pengawasan Cagar Alam Nasional.

Paket Wisata :

1. Wisata Edukasi/ilmiah ; perkebunan teh, budiadaya, persiapan benih, pemeliharaan, panen, pengolahan pabrik, produk siap seduh. Umumnya para pelajar dan mahasiswa sering berkunjung ke Pabrik untuk melihat langsung budidaya teh dan proses pengolahan teh.

2. Wisata Rekreasi Keluarga (Family gathering) dilengkapi taman bermain anak, kolam renang air hangat untuk anak-anak. Umumnya pada hari libur nasional dan hari minggu banyak yang berkunjung ke kebun teh dan danau renjeng.

3. Wisata historis/budaya.

4. Wisata Petualangan ; permainan & outbond dapat juga sebagai pos awal pendakian menuju gunung Slamet. Setiap musim liburan sekolah banyak para siswa yang mengadakan kegiatan kemah, sekaligus outbound. Disamping itu karyawan perusahaan swasta di wilayah Brebes, Tegal, Cirebon, dan Purwokerto juga mengadakan corporate gathering. Perusahaan swasta besar dari Jakarta juga pernah mengadakan pertemuan di kebun Kaligua

5. Wisata bisnis ; MICE (Meeting, conference, incentif, exhibition)

6. Wisata kebun (stroberi, kubis, kentang, tanaman hias)

7. Wisata olahraga (tennis, sepak bola, bola voli, billyard)

name : Kurnia Bhakti Putri

NPM : 15609038

Class: 3SA01

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kepariwisataan Tempat wisata di Korea

 

Gwandong Palgyeong

Gwandong Palgyeong

Uisangdae, salah satu dari Gwandong Palgyeong

Nama Korea

Hangeul

관동팔경

Hanja

關東八景

Alih Aksara yang Disempurnakan

Gwandong Palgyeong

McCune–Reischauer

Kwantong p’alkyŏng

Gwandong Palgyeong (Delapan Pemandangan Indah di Gwandong) adalah istilah yang diberikan untuk beberapa objek wisata di pantai timur Semenanjung Korea.[1]

Sejak masa lampau, orang Korea berwisata ke tempat-tempat yang berpemandangan indah sambil membuat puisi, lagu dan lukisan untuk mengekspresikan perasaan mereka terhadap kecantikan tempat-tempat itu. Ada banyak kawasan di Korea yang dijadikan sebagai “pemandangan indah” (gyeong), beberapa dikategorikan sebagai isipigyeong (“12 pemandangan”), sipgyeong (“10 pemandangan”), palgyeong (“8 pemandangan”), yukgyeong (“6 pemandangan”) dan samgyeong (“3 pemandangan”).

Delapan Pemandangan

Gwandong Palgyeong merujuk kepada 8 pemandangan di Gwandong, kawasan yang terletak di sebelah timur Jalur Daegwallyeong.[1] Di ke delapan lokasi ini dibangun pendopo-pendopo untuk melihat pemandangan.[1]

  • Cheongseokjeong di Tongcheon. Awalnya digunakan untuk menyebut pendopo yang didirikan dekat pantai, namun kini merujuk pula pada batu-batu tinggi berbentuk pilar yang berdiri tegak. Cheongseokjeong adalah lokasi pertama yang masuk ke kategori Gwandong Palgyeong.
  • Samilpo adalah sebuah danau di dekat Desa Onjeong, Goseong. Dikelilingi oleh perbukitan berbatu-batu di bagian utara dan selatan. Samil bermakna “Tiga Hari”, dinamakan berdasarkan kisah para hwarang pada masa kerajaan Silla yang sempat tinggal di tempat ini selama tiga hari karena terpikat akan pemandangannya.
  • Cheongganjeong di Ganseong adalah sebuah pendopo bertingkat dua yang terletak di sebuah bukit yang di sisinya mengalir Kali Cheonggyeong (Cheonggyeongcheon) yang bermuara ke Laut Timur.[2] Lokasinya 7 km sebelah utara Kota Sokcho. Sejak lama, wisatawan datang ke sini untuk mengagumi pemandangan pantai dan matahari terbit.
  • Uisangdae di Yangyang, pendopo dalam kawasan Kuil Naksan (Naksansa).[3] Pemandangan yang tampak dari Pendopo Uisang adalah laut timur dengan pohon-pohon cemara. Dinamakan dari biksu Silla bernama Uisang yang konon bermeditasi berjam-jam menghadap laut di tempat ini.
  • Gyeongpodae, pendopo yang terletak di atas bukit di sebelah barat Gyeongpoho, sebuah danau tempat pertemuan air laut dan air tawar. Pendopo Gyeongpo terletak 6 km sebelah timur laut kota Gangneung. Sejak lama tempat ini dikunjungi untuk melihat pantai saat matahari terbit dan terbenam sekaligus bulan purnama.
  • Jukseoru di Samcheok adalah satu-satunya pendopo dalam kategori Gwandong Palgyeong yang menghadap ke arah sungai bernama Osipcheon, berbeda dari pendopo di lokasi lain yang menghadap laut.[4] Didirikan pada tahun 1266, lokasinya berada di Seongnae-dong, Kota Samcheok.[4] Namanya bermakna Pendopo di Sebelah Barat Hutan Bambu. Lokasi pendopo ini dikelilingi gunung di tiga sisi, yang terdekat adalah Gunung Bonghwang dan Gunung Galya, sementara di kejauhan ada Gunung Taebaek.
  • Mangyangjeong di Uljin adalah pendopo di sebuah bukit yang di sisinya mengalir Kali Bulyeong (Bulyeongcheon) ke Laut Timur. Di bawah bukit terdapat pantai berpasir putih dengan pohon-pohon cemara.
  • Wolsongjeong di Pyeonghae.[5] Pendopo ini sejak lama telah menarik banyak perhatian para pujangga yang mengagumi kecantikan pantai dan hutan cemara di sekitarnya.[5] Bahkan, pemandangan di daerah ini telah dikagumi sejak zaman Silla.[5] Terdapat sebuah cerita terkenal dimana keempat orang Hwarang pernah mengunjungi tempat ini.[5] Wolsongjeong bermakna “Pendopo Cemara Wol” yang dinamakan berdasarkan legenda bahwa bibit cemara di sini berasal dari Negeri Yue (Wol).[5]

Galeri

Danau Samil

Danau Gyeongpo

Pendopo Uisang

Lukisan Pendopo Mangyang

Pendopo Wolsong

Delapan Pemandangan Indah di Gwandong

Cheongganjeong (Ganseong) • Gyeongpodae (Gangneung) • Samilpo (Goseong)

Jukseoru (Samcheok) • Naksansa (Yangyang) • Mangyangjeong (Uljin)

Chongseokjeong (Tongcheon) • Wolsongjeong (Pyeonghae)

Naksansa

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Naksansa

One of the halls on the grounds of Naksansa

Korean name

Hangul

낙산사

Hanja

Revised Romanization

Naksansa

McCune–Reischauer

Naksansa

Coordinates: 38°07′31″N 128°37′40″E / 38.12541°N 128.62782°E / 38.12541; 128.62782 Naksansa or Naksan Temple is a Korean Buddhist temple complex in the Jogye order of Korean Buddhism that stands on the slopes of Naksan Mountain (also called “Obongsan Mountain”). It is located about midway between Sokcho and Yangyang, Gawngwon Province, eastern region of South Korea. Naksansa is one of the few temples in Korea to overlook the Sea of Japan (East Sea).[1][2]

Naksan is an abbreviated term of Botarakgasan () in Korean to refers to “Potalaka Mountain”, the place where the Avalokitesvara Bodhisattva is believed to live. Thus, Naksan Mountain is also known as Korea’s Potalaka Mountain. The Bodhisattva is said to live on a sea-bound island along with guardian dragons. Naksansa is regarded as one of the great eight scenic areas in the Eastern region of Korea, known as “Gwandong Palgyeong” (관동팔경).

History

Naksansa was founded in 671, by the Buddhist monk, Uisang Daesa (Grand Master Uisang), an ambassador of the 30th King Munmu of the Silla Period (BC 57-AD 935)[1][2] after he had returned from studying abroad during the Chinese Tang Dynasty, who, while meditating near the cave in which the Avalokitesvara Bodhisattva (Gwaneumbosal) was believed to have lived, was told by the Bodhisattva to build the temple there.[4]

Today, the octagonal Uisangdae Pavilion sits on the spot where Uisang once meditated, the current pavilion having been built in 1925.[5]

Treasures

Haesugwaneumsang (Bodhisattva of Mercy), known as the goddess Gwanseeum-Bosal, gazes out to sea

Mount Naksan is crowned by the Buddhist statue of Haesugwaneumsang (해수관음입상, Bodhisattva of Mercy), known as the goddess Gwanseum-Bosal[2][4], facing southeast standing 15 meters (49 ft) high on a 2.8-meter (9 ft) high pedestal. The white granite statue stands in a clearing at the top of the hill, eyes and fingers closed in peaceful meditation as it gazes out to sea. The massive statue is the work of Busan sculptor Gwon Jeong-hwan (권정환) and was dedicated in 1977. 700 tons of granite and six months were required to complete the sculpture. It is the largest Buddhist statue of its kind in the Orient.

Hongreanam was built by Uisang as a Hermitage above a stone cave.In the sanctuary floor there is a 10-centimeter (4 in) opening through which you can see the sea below.

Naksansa’s seven storied stone pagoda, Naksansa Chilcheung Seoktap (Seven storied stone pagoda in Naksansa Temple) built in 1467, the 13th year of the reign of King Sejo,is Treasure No.499.[6] During a repair, it is said that a Buddhist rosary and a magic bead were sealed inside the pagoda. The seven storied stone pagoda is an example of the Goryeo style pagoda having a single square foundation. The square foundation on this pagoda is carved with 24 lotus petals. Of special note is a stone prop in each story, which is larger and thicker than its body stone. The pagoda is formed with thin eaves, a straight slope, and upward edges. On the finial, around the long thin, bronze rod are ornaments similar to those in Lama pagoda of Yuan Dynasty (1279-1368) in China. Mostly it follows the rather simple style of the Goryeo pagodas though.

Temple gallery

Uisangdae Pavilion clings to the rocks overlooking the Sea of Japan

Hongreanam poised over the sea above the cave

Naksansa’s seven storied stone pagoda, Naksansa Chilcheung Seoktap

Lagoon, Bell/Drum Tower, Temple hall on the grounds of Naksansa

Uisangdae Pavillion seaside panorama

2005 fire and reconstruction

A picture of the 2005 fire posted on a signboard on the grounds of Naksansa

Most of Naksansa was destroyed by a fire that started in the surrounding forest on April 5, 2005. The temple bell, a national treasure dated 15th century, was also melted and destroyed in the fire.The museum displays a violin and cello built from wood found on the temple grounds that survived the fire.

The temple was earlier destroyed by fire during the Mongolian invasion of the 13th century. During the Joseon Dynasty (1392-1910) the temple was repeatedly reconstructed and expanded by royal order in 1467, 1469, 1631 and 1643. The pre-2005 fire facilities were constructed in 1953 after the buildings were again destroyed during the 1950-53 Korean War.

Present reconstruction is well under wayas can be seen in the gallery bellow. The new construction projects are expected to be completed and the temple fully restored by 2010.

Reconstruction Gallery

Craftsmen assemble flooring planks in a temple hall

Craftsmen assemble flooring planks in a temple hall

Craftsmen building a tile capped adobe wall

Craftsmen shows special cut pieces that comprise the elements of the tile capped wall

Nama: Kurnia Bhakti Putri

Kelas; 3sa01

NPM: 15609038

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kepariwisataan tentang makanan khas suatu tempat

KURMA

 

 

Kurma , (Arab: تمر‎, Tamr; nama latin Phoenix dactylifera) adalah tanaman palma (Arecaceae) dalam genus Phoenix, buahnya dapat dimakan. Walaupun tempat asalnya tidak diketahui karena telah sejak lama dibudidayakan, kemungkinan tanaman ini berasal dari tanah sekitar Teluk Persia[1]. Pohonnya berukuran sedang dengan tinggi sekitar 15-25 m, tumbuh secara tunggal atau membentuk rumpun pada sejumlah batang dari sebuah sistem akar tunggal. Daunnya memiliki panjang 3-5 m, dengan duri pada tangkai daun, menyirip dan mempunyai sekitar 150 pucuk daun muda; daun mudanya berukuran dengan panjang 30 cm dan lebar 2 cm. Rentangan penuh mahkotanya berkisar dari 6-10 m.

Etimologi

Nama spesies dactylifera “date-bearing” berasal dari Yunani kuno, dáktulos, “kurma” (juga “jari”)[2] dan batang dari kata kerja Latin, ferō, “Saya memberi”.[3]

Sejarah Kurma

Kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun lamanya. Pohon Kurma diyakini berasal dari sekitar Teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir, kemungkinan pada awal 4000 SM. Bangsa Mesir Kuno menggunakan buahnya untuk dibuat menjadi anggur kurma dan memakannya pada saat panen. Ada bukti arkeologi budidaya kurma di bagian Arab timur pada tahun 6000 SM. (Alvarez-Mon 2006).

Pada zaman selanjutnya, orang Arab menyebarkanluaskan kurma di sekitar Selatan dan Barat Daya Asia, bagian utara Afrika, Spanyol dan Italia. Kurma diperkenalkan di Mexico dan California, disekitar Mission San Ignacio, oleh bangsa Spanyol pada tahun 1765.

Kurma

Panen kurma di seluruh dunia

Kandungan kurma kering (bagian yang dapat dimakan)

Nilai nurtrisi per 100 g (3.5 oz)

Energi

1.180 kJ (280 kcal)

Karbohidrat

75 g

Gula

63 g

Dietary fibre

8 g

Lemak

0.4 g

Protein

2.5 g

Air

21 g

Vitamin C

0.4 mg (1%)

Manganese

0.262 mg

Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Source: Sumberdata Nutrisi USDA

Buah yang dihasilkan oleh pohon kurma dikenal sebagai buah kurma.[4] Bentuk buahnya lonjong-silinder dengan panjang 3-7 cm, berdiameter 2-3 cm dan ketika masih muda warnanya merah cerah ke kuning terang, tergantung dari jenisnya. Kurma memiliki biji tunggal yang ukuran panjangnya sekitar 2-2,5 cm dan tebalnya 6-8 mm. Buah kurma dikelompokan menjadi tiga golongan utama yaitu: lunak (contohnya ‘Barhee’, ‘Halaw’, ‘Khadrawy’, ‘Medjool’), semi-kering (contohnya ‘Dayri’, ‘Deglet Noor’, ‘Zahidi’) dan kering (contohnya ‘Thoory’). Jenis buah ini tergantung pada kandungan glukosa, fruktosa dan sukrosa.

Pohon kurma merupakan tanaman jenis dioecious, yaitu memiliki tanaman jantan dan betina yang hidup secara terpisah. Mereka dapat tumbuh dengan mudah dari bakal biji, tetapi hanya 50% tanaman betina yang ditanam secara pembibitan akan berbuah, dan menghasilkan buah yang kecil serta berkualitas rendah. Sebagian besar perkebunan menggunakan perkembangbiakan stek pada tanaman, terutama pada kultivar ‘Medjool’ karena bisa menghasilkan panen yang banyak serta buah yang manis dan besar. Tanaman yang tumbuh dari cara stek akan berbuah 2-3 tahun lebih awal daripada tanaman yang menggunakan bibit.

Pembuahan dengan serbuk sari pada pohon kurma dilakukan secara alami oleh angin tetapi pada perkebunan oasis tradisional dan perkebunan modern, penyerbukan dilakukan secara manual. Penyerbukan alami pada tanaman jantan dan betina, dapat terjadi dengan jumlah yang sama antara kedua tanaman. Namun, bila dilakukan dengan bantuan, satu tanaman jantan bisa menyerbuki hingga 100 tanaman betina. Tanaman jantan yang merupakan sebagai penyerbuk, memungkinkan para petani menggunakan sumber daya mereka untuk memproduksi lebih banyak buah pada tanaman betina.

Tanda Kurma tergantung ke bawah dari puncak

Beberapa petani bahkan tidak memelihara tanaman jantan, yang mana sebagai bunga jantan, untuk menyediakannya di pasar lokal pada saat waktu penyerbukan. Penyerbukan manual dikerjakan oleh pekerja terampil dengan menggunakan bantuan tangga untuk naik ke atas pohon. Di beberapa daerah seperti Irak, para pekerja memanjat pohon dengan menggunakan alat pemanjat khusus, dimana alat tersebut mengitari batang pohon dan pendaki membuatnya tetap melekat pada bagasi saat mendaki. Jarang serbuk sari dapat diterbangkan ke bunga betina dengan angin.

Kurma matang dibagi menjadi empat golongan, yang mana dikenal di seluruh dunia dengan menggunakan penamaan Arab yaitu, kimri (muda), khalal (berukuran penuh), rutab (matang, lembut), tamr (matang, dikeringkan dengan bantuan matahari).

Setiap 100 gram kurma segar dapat mengandung sumber vitamin C[rujukan?] dan energi sebesar 230 kcal (960 kJ). Air yang terkandung dalam kurma relatif sedikit dan hal ini tidak menjadikannya jauh lebih pekat pada saat proses pengeringan berlangsung, meskipun vitamin C-nya akan hilang.

Kurma merupakan tanaman tradisional yang penting di Turki, Iraq, Arab, Afrika Utara sampai ke Maroko. Di negara-negara Islam, kurma dan yogurt atau susu adalah makanan tradisional yang utama untuk berbuka puasa pada saat bulan Ramadan. Kurma (terutama Medjool dan Deglet Noor) juga dibudidayakan di Amerika Serikat pada bagian selatan California, Arizona dan bagian selatan Florida.

Pohon kurma dapat berbuah setelah ditanam selama 4 sampai 7 tahun dan bisa dipanen ketika telah berusia 7 sampai 10 tahun. Pohon kurma yang telah dewasa bisa menghasilkan 80-120 kg (176-264 lb) buah kurma pada setiap musim panennya. Agar mendapatkan buah yang berkualitas untuk bisa dipasarkan, tandan kurma harus ditipiskan dan dibungkus atau ditutup sebelum matang supaya buahnya bisa tumbuh menjadi lebih besar dan terlindungi dari cuaca dan hama, seperti burung.

Kultivar Kurma

Sejumlah besar kultivar pohon kurma yang tumbuh. Berikut yang paling penting adalah:

  • Aabel — umumnya di Libya.
  • Ajwah (Indonesia: kurma nabi) — berasal dari arah kota Madinah di dataran tinggi dekat Nejed di Saudi Arabia, di Hadits terkenal oleh Nabi Muhammad.
  • Al-Barakah — dari Saudi Arabia.
  • Amir Hajj atau ‘Amer Hajj’ — dari Irak, kurma ini lembut dengan kulit yang tipis namun dagingnya tebal, terkadang dijuluki “the visitor’s date” (Indonesia: kurma wisatawan) karena kelezatannya disajikan untuk tamu.
  • ‘Abid Rahim (Arabic: عبد رحيم‎), dari Sudan.
  • Barakawi (Arabic: بركاوي‎), dari Sudan.
  • Barhee atau (barhi) (dari Arabic barh, angin panas) — bentuknya hampir silinder, berwana kuning sawo terang ke coklat tuaan ketika matang; lembut dengan daging yang tebal dan kaya akan rasa. Satu dari sekian jenis yang bagus adalah kurma khalal ketika menguning(seperti anggur yang dikeringkan, seperti kismis).
  • Bireir (Arabic: برير‎) — dari Sudan.
  • Datça Date – Turki, jumlah kurma terletak di paling utara, di Mediterania.
  • Deglet Noor (Arabic: دڤلة النور , Indonesia: ‘kurma cahaya’) — dinamakan seperti itu karena bagian tengahnya terang atau berwarna keemasan ketika di sinari ke matahari. Kurma ini terkenal di Libya, Aljazair, Amerika Serikat dan Tunisia. Di Tunisia, kurma ini tumbuh di pedalaman oasis dan diutamakan untuk diekspor. Jenis kurmanya semi kering dan terasa tidak terlalu manis.
  • Derrie atau ‘Dayri’ (kurma ‘Biara’) — dari bagian selatan Irak — bentuknya panjang, ramping, warnanya hampir hitam dan terasa lembut.

Kebun Buah Pohon Kurma, Boumalne, Moroko

  • Empress — dibudidayakan oleh DaVall Family di Indio California USA dari pembibitan of *’Thoory’. Bentuknya besar, lebih lembut dan lebih manis daripada ‘Thoory’. Pada umumnya berwarna sawo matang terang pada bagian setengah ke atas dan setengah ke bawahnya berwarna coklat.
  • Ftimi atau ‘Alligue’ — tumbuh di pedalaman oasis Tunisia.
  • Holwah (Halawi) (Arabic: ‘manis’) — teksturnya lembut, rasanya luarbiasa dan bentuknya dari kecil sampai sedang.
  • Haleema — di Hoon, Libya (Haleema adalah nama seorang wanita).
  • Hayany — dari Mesir (Hayani) (Hayany adalah nama seorang laki-laki) — berwarna merah gelap hampir kehitaman dan lembut.
  • Iteema — umumnya di Aljazair.
  • Khajur — umumnya di India / Pakistan.
  • Kenta — umumnya di Tunisia.

Kurma Khadrawi

  • Kurma Khadrawi
  • Khadrawy (Arabic: ‘hijau’) — budidaya yang di istimewakan oleh orang Arab, tekturnya lembut dan warnanya sangat gelap.
  • Khalasah (Arabic: ‘saripati’) — satu dari kultivar palem yang terkenal di Saudi Arabia, terkenal karena tingkat kemanisannya yang tidak terlalu tinggi dan rendah, yang mana disukai oleh banyak orang. Buahnya dijuluki ‘Khlas’. Tempatnya yang terkenal yaitu ‘Huffuf’ (Al-Ahsa) dan ‘Qatif’ di Timur Provinsi Saudi Arabia (Al-Sharqheyah).
  • Khastawi (Khusatawi, Kustawy) — kurma yang terkenal akan kelembutannya di Irak; rasanya seperti sirup dan berukuran kecil, ditanam di gurun.
  • Maktoom (Arabic: ‘sembunyi’) — bentuknya besar, berwarna merah kecoklatan, berkulit tebal, lembut, rasa manisnya sedang.
  • Manakbir — sejumlah buah yang matang lebih awal.

Kurma Medjool

  • Kurma Medjool
  • Medjool atau (Mujhoolah) (Arabic: ‘tidak diketahui’) — dari Maroko, juga tumbuh di AS, Saudi Arabia, Jordan, wilayah Palestina dan Israel; besar, manis dan banyak mengandung air.
  • Migraf (Mejraf) — sangat populer di bagian selatan Yaman, bentuknya besar, berwarna keemasan.
  • Mgmaget Ayuob — dari Hoon, Libya.
  • Mishriq (Arabic: ‘Timur’ — مشرق)‎ — dari Sudan dan Saudi Arabia.
  • Mozafati — dari Iran, sebagian besar tumbuh di provinsi Kerman, dan sering dijuluki “Kurma Bam (Mozafati)”, menurut sebuah kota di provinsi itu. Warnanya gelap, lembut dan terasa manis dengan ukuran yang sedang. Kurma ini lebih baik dikonsumsi ketika masih segar karena tidak tahan lama.Pada suhu -5 derajat Celsius (23 °F) dapat disimpan sampai 2 tahun lamanya. Di hitung 10% dari perusahaan kurma orang Iran (100,000 ton[kira-kira], yang mana 30% diekspor).
  • Nabtat-seyf — di Saudi Arabia.
  • Rotab — dari Iran, berwarna gelap dan terasa lembut.
  • Sag‘ai — dari Saudi Arabia.
  • Saidy (Saidi) — lembut, sangat manis, terkenal di Libya.
  • Sayer (Sayir) (Arabic: ‘umum’) — berwarna tua oranye ke coklatan, berukuran sedang, terasa lembut dan seperti sirup.
  • Sekkeri — (lit. bergula) (Arabic: سكري) Kulit berwarna coklat tua; jelas terasa manis dan daging yang lembut, dari Saudi Arabia, jenis yang paling mahal.
  • Sellaj — (Arabic: سلّج)in Saudi Arabia.
  • Tagyat — umumnya di Libya.
  • Tamej — di Libya.
  • Thoory (Thuri) — populer di Aljazair, kurma kering dengan warna coklat kemerahan ketika diawetkan warnanya mekar kebiru-biruan dan kulitnya sangat berkeriput. Dagingnya terkadang keras dan rapuh tapi rasanya bisa dideskripsikan sebagaimana manis dan pedas.
  • Umeljwary — di Libya.
  • Umelkhashab — Kulit merah benderang; rasanya pahit rada manis, dagingnya putih kaku (Saudi Arabia).
  • Zahidi (Arabic: ‘[dari] alam‘) — ukurannya sedang, silinder, berwarna terang emas ke coklatan, kurma yang semi kering dengan sangat manis dan dijual mulai dari yang lembut, sedang dan keras.
  • Zaghloul (Arabic: زغلول‎) -Kulit berwarna merah tua, panjang dan sangat garing ketika disajikan (selalu), gulanya begitu tinggi sehingga mengering ketika dimakan. Jenisnya penting dan khusus di Mesir, dimana menaklukan rasa nasionalis. (Saad Zaghloul pahlawan besar orang Mesir).

Produksi

Penjual kurma di Souk tua, Kuwait City

Kota Kurma di Buraidah

Produksi kurma tahun 2005

Sepuluh Teratas Produsen Kurma — 2007
(1000 ton)

 Mesir

1,313.69

 Iran

1.000,00

 Arab Saudi

982,54

 Uni Emirat Arab

755,00

 Pakistan

557,52

 Aljazair

526,92

Irak

440,00

 Sudan

332,00

 Oman

255,87

 Libya

175,00

Jumlah Total

6908,90

Sumber:
UN Food & Agriculture Organisation (FAO)[1]

Makanan dari Olahan Kurma

Kurma kering atau lembut yang dimakan buatan tangan atau mungkin terlihat berbintik-bintik diisi dengan isian seperti almond, kenari, manisan jeruk dan kulit lemon, tahini, marzipan atau krim keju. Kurma berbintik disebut juga kurma tanpa biji. Sebagian kurma kering berbintik kemungkinan berglasir dengan sirup glukosa untuk digunakan sebagai makanan ringan. Kurma juga dapat dipotong dan digunakan dalam berbagai hidangan manis dan gurih mulai dari tajines (untuk puding) di Maroko, ka’ak (jenis kue kering Arab) dan makanan pencuci mulut lainnya. Kurma roti kacang, jenis kue, sangat populer di Amerika Serikat terutama menjelang hari-hari libur. Kurma juga diproses menjadi berbentuk dadu, pasta (yang disebut “ajwa”), olesan, sirup kurma atau “madu” yang disebut “dibs” atau “rub” di Libya, bubuk (gula kurma), cuka ataupun alkohol. Inovasi olahan terbaru antara lain kurma berlapis cokelat dan produk-produk seperti jus kurma bersoda, yang digunakan di beberapa negara-negara Islam sebagai sampanye versi non-alkohol, untuk acara-acara khusus dan waktu keagamaan seperti Ramadhan.

Kurma juga dapat dikeringkan, ditumbuk dan dicampur dengan gandum untuk membentuk bahan baku bergizi. Kurma kering dimakan oleh unta, kuda dan anjing di Sahara. Di Nigeria utara, kurma dan lada ditambahkan ke dalam bir asli yang diyakini membuatnya untuk mengurangi mabuk.

Daun kurma muda dimasak dan dimakan sebagai sayuran, seperti pangkal tunas atau jantung, meskipun pada saat pengangkatannya bisa membuat pohon mati. Benih digiling halus dicampur dengan tepung untuk membuat roti pada saat sedang kelangkaan terjadi. Bunga-bunga kurma juga dimakan. Secara tradisional, bunga betina adalah bunga yang paling tersedia untuk dijual dan beratnya 300-400 gram. Kuncup bunga digunakan dalam salad atau sebagai alas pada ikan kering untuk membuat bumbu roti.

Menurut sebuah studi oleh Al-Shahib dan Marshall, dalam banyak hal, “Kurma dapat dianggap sebagai makanan yang hampir ideal, memberikan berbagai nutrisi penting dan manfaat kesehatan yang potensial.” Kurma adalah sumber yang sangat baik untuk diet kalium. Kandungan gula pada kurma yang telah matang sekitar 80%; sisanya terdiri dari protein, serat, dan elemen termasuk boron, kobalt, tembaga, fluor, magnesium, mangan, selenium, dan seng.[5]

Di India dan Pakistan, Afrika Utara, Ghana, dan Pantai Gading, pohon kurma disadap untuk diambil getah manisnya, yang dikonversi menjadi gula kelapa (yang dikenal sebagai jaggery atau gur), sirup gula atau minuman beralkohol. Di Afrika Utara getah yang diperoleh dari penyadapan pohon palma dikenal sebagai lāgbī. Jika dibiarkan untuk jangka waktu yang cukup lama (biasanya berjam-jam, tergantung pada suhu) lāgbī dengan mudah dapat menjadi minuman beralkohol. Keterampilan khusus diperlukan pada saat penyadapan pohon palma sehingga tidak mati.

Di bagian Tenggara Spanyol (di mana perkebunan besar kurma ada termasuk UNESCO dilindungi Palmeral dari Elche) kurma (biasanya olahan dengan almond goreng) disajikan terbungkus pada daging babi asap dan shallow goreng.

Itu juga digunakan untuk membuat Jallab.

Kegunaan Pohon Kurma

Tunggul Pohon Kurma menampakan struktur kayu

Biji kurma tersebut direndam dari bawah ke atas untuk dijadikan pakan ternak. Minyaknya cocok untuk digunakan dalam bentuk sabun dan kosmetik. Mereka juga dapat diolah secara kimia sebagai sumber asam oksalat. Benih-benihnya juga dibakar untuk membuat arang oleh pandai perak dan dapat dirangkai menjadi kalung. Biji kurma juga tanah dan digunakan pada olahan biji kopi atau sebagai bahan tambahan untuk kopi.

Tandan buah yang telah dipreteli dapat digunakan sebagai sapu. Di Pakistan, viskos, sirup kental yang terbuat dari buah yang matang digunakan sebagai pelapis untuk tas kulit dan pipa untuk mencegah kebocoran.

Getah pohon kurma dapat digunakan untuk membuat sirup dan berbagai produk dapat dimakan berasal dari sirup.

Lambang Pohon Kurma pada Mantel Tentara di Saudi Arabia

Daun pohon kurma digunakan untuk Palm Sunday dalam agama Kristen. Di Afrika Utara, mereka biasanya digunakan untuk membuat pondok. Daun dewasa juga dibuat menjadi tikar, layar, keranjang dan kipas. Daun yang diolah dapat digunakan sebagai isolasi kardus. Tangkai daun kering yang merupakan sumber ampas selulosa dapat dijadikan sebagai tongkat jalan, sapu, umpan pancing dan bahan bakar. Pelepah daun yang berharga mengeluarkan aroma serta seratnya juga bisa digunakan sebagai tali, kain kasar, dan topi besar. Di hari libur Yahudi, Sukkot, daun-daunnya digunakan sebagai lulav.

Kayu kayu pohon kurma digunakan untuk tiang dan langit-langit pada pondok, karena lebih ringan dari kelapa dan tidak begitu tahan lama. Kayu juga digunakan untuk konstruksi seperti jembatan dan saluran air, dan bagian dari dhows. Sisa kayunya dibakar sebagai bahan bakar.

Dimana tradisi kerajinan masih berkembang, seperti di Oman, pohon palem adalah yang paling serba guna dari semua tanaman asli, dan hampir setiap bagian dari pohon digunakan untuk membuat barang-barang fungsional mulai dari tali dan keranjang untuk sarang, perahu nelayan, dan tempat tinggal tradisional.

Kegunaan Kurma dalam Bidang Pengobatan

Kurma memiliki kandungan tannin yang tinggi dan secara medis digunakan sebagai deterjen (memiliki daya pembersihan) dan astringent pada usus yang bermasalah.Kurma dapat diberikan untuk sakit tenggorokan, pilek, penyakit selesema bronkial, meringankan demam dan sejumlah keluhan lainnya dalam bentuk infus, ramuan, sirup atau pasta.Satu keyakinan tradisional mengatakan bahwa kurma dapat menetralkan keracunan alkohol. Bubuk biji juga digunakan dalam beberapa obat-obatan tradisional.

Getah yang dicucurkan oleh batang pohon, di India, digunakan untuk mengobati diare dan penyakit kencing genital.Akarnya digunakan melawan sakit gigi. Serbuk sari menghasilkan sebuah prinsip estrone, estrogenik, dan memiliki efek gonadotropic pada tikus muda.

Penyakit

Artikel utama: List of date palm diseases

Pohon Kurma rentan terhadap penyakit yang disebut penyakit Bayoud, yang mana disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum. Penyakit ini, yang membunuh banyak kultivar tertua yang paling terkenal seperti ‘Deglet Noor’, telah menyebabkan penurunan besar pada produksi di mana penyakit itu muncul, terutama Maroko dan Aljazair Barat. Namun, kultivar baru yang tahan terhadap penyakit ini sedang dikembangkan.

 Nama : Kurnia Bhakti Putri

Kelas: 3sa01

NPM: 15609038

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment